12 Mei 2009

nasionalisme biru lebam!

nasionalisme tinggallah semangat
pada dada anak-anak pencari bendera
yang terseret ombak
landas menuju samudera luas
yang katanya milik Indonesia
tiang-tiang yang tersisa
menjadi milik merpati yang tak tahu jalan pulang
sarang-sarang yang dibuat anak bangsa ini
ditimpa beban sejarah resah
bak tsunami!
nasib pulau yang ibarat perca
mengapung ragu di sekat-sekat
karang gigi pembesar negeri
benang-benang itu tidak ada lagi
kecuali pembersih gigi orang-orang kenyang
dengan apa hendak dijahitkan
luka-luka lebar tak berdarah?
dan negeri ini semakin takut pada air,
air mata ibu-ibu yang ditakuti suami
karena tak satupun yang bisa menjadi nasi
juga takut pada air ludah demonstran
juga pada air seni orang malnutrisi
di antara mereka yang berkutat
dengan alotnya serat daging Kentucky
ah, nasionalisme
hanya orgasme musim kawin
orang-orang tak berpelamin
kepada apa negeri ini hendak berkelamin,
bila tak ada yang benar-benar hendak memimpin
bangsa ini tak beranak
kecuali kutu-kutu yang begitu saja muncul
dari tepi pulau yang semakin perca
kutu-kutu hanya menggerogotinya
nasionalisme apa yang hendak dimimpikan?
jarum-jarum itu tidak menyatukan
kecuali hanya menikam di tempat yang kelam
nasionalisme biru lebam!

Padang, 12 Mei 2009

20 April 2009

Mata pencuri

Oleh Muhammad Nasir

Kemana harus kau sembunyikan rusuh hati
Bila lari tak lagi jadi solusi

kuatkah tapakmu menyandang mata kaki
Tersuruk-suruk lari ke tanah berduri
Bagaimana harus beranjak?
Mata seram itu lekat ketat hingga ke otak

Pada malam sudahkah kau laporkan;
Katakan saja; malam gelaplah,
Benamkan aku dalam patimu
Hingga remuk aku berpeluh-peluh

Tapi kelam itu menjadi mustahil
Malam semakin berpori-pori
Peluhmu tercium hingga dini hari
Pelangkahan rabun mata pencuri

Pada saatnya kau emosi
Kau pukul saja matanya sekuat hati
Senin, 16 Juni 2008